<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Opini Archives - JURNAL15</title>
	<atom:link href="https://jurnal15.co.id/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jurnal15.co.id/category/opini/</link>
	<description>Melihat Dunia Tanpa Batas</description>
	<lastBuildDate>Sat, 13 Sep 2025 03:12:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://jurnal15.co.id/wp-content/uploads/2022/03/cropped-vaicon-32x32.png</url>
	<title>Opini Archives - JURNAL15</title>
	<link>https://jurnal15.co.id/category/opini/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kita, Anak-Anak Terlantar dan Kemanusiaanoleh : Hamdan Suhaemi</title>
		<link>https://jurnal15.co.id/kita-anak-anak-terlantar-dan-kemanusiaanoleh-hamdan-suhaemi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Sep 2022 13:15:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnal15.co.id/?p=1129</guid>

					<description><![CDATA[<p>JURNAL15.CO.ID, BANTEN &#8212; Siapa yang tidak berderai air mata, ketika derita anak-anak terlantar tersebut ada di depan mata. Anak sebatang kara, tertinggal ayahnya yang menikah lagi, atau ada ibunya tapi barusan minum Baygon karena tak mampu menahan beban hidup. Bahkan lebih tragis ditinggal kedua orang tuanya karena di perjalanan terlindas kereta api, di saat mereka &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://jurnal15.co.id/kita-anak-anak-terlantar-dan-kemanusiaanoleh-hamdan-suhaemi/">Kita, Anak-Anak Terlantar dan Kemanusiaan&lt;br&gt;oleh : Hamdan Suhaemi</a> appeared first on <a href="https://jurnal15.co.id">JURNAL15</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><a href="http://Jurnal15">JURNAL15.CO.ID</a></strong>, <strong><a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Banten">BANTEN</a></strong> &#8212; Siapa yang tidak berderai air mata, ketika derita anak-anak terlantar tersebut ada di depan mata. Anak sebatang kara, tertinggal ayahnya yang menikah lagi, atau ada ibunya tapi barusan minum Baygon karena tak mampu menahan beban hidup. Bahkan lebih tragis ditinggal kedua orang tuanya karena di perjalanan terlindas kereta api, di saat mereka masih kecil. Anak-anak yang terlantar, yang tak memilki masa depan hidup, harus kuat melawan ganasnya kehidupan. Sekedar untuk mengisi perut harus berjibaku antara tenaga dan air mata.</p>



<p>Melihat potret realitas kehidupan nyata di depan mata, di lampu merah, di pinggiran ruas jalan, di trotoar-trotoar. Bahkan menjerit pilu, menelan ludah hanya karena melihat ada anak orang kaya yang tengah makan pizza hut, lahap dan nikmat di depan Mall. Orang lalu lalang tak ada yang melirik, iba pun tidak. Sungguh pemandangan ironi dan menyedihkan, di saat negeri ini pesat membangun, di saat negeri ini tengah melewati fase menuju era metaverse.</p>



<p>Ada apa dengan kemanusiaan kita ini ?. Apakah empati itu sudah hilang, apakah kepedulian itu tertutupi oleh perilaku individualistis, apakah mampetnya kepekaan sosial kita karena terbiasa kita hidup hedonis. Mari lihat dan perhatikan, bukankah mereka adalah anak-anak manusia seperti halnya kita. Seharusnya kita tidak lagi berdebat, berdiskursus, atau berpolemik soal-soal kemanusiaan, dimana rasa kemanusiaan kita mestinya diberikan untuk mereka anak-anak yang terlantar, perih, lapar dan berkawan nyamuk dan lalat tersebut. Menjadi panggilan nurani untuk datang, menyapa, memberi dan mengarahkan agar hidup menju lebih baik.</p>



<p>Membaca data Kementerian Sosial yang diambil dari Dashboard Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) SIKS-NG per-15 Desember 2020, jumlah anak terlantar di Indonesia sebanyak 67.368 orang. Bahkan Asisten Deputi Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Femmy Eka Kartika Putri menegaskan bahwa penanganan anak terlantar butuh komitmen kuat dari semua pihak. Tentu tidak satu pihak melihat ini sebagai sekedar tanggung jawab, tapi kita anak bangsa semuanya punya tanggung jawab atas realitas sosial ini. Dasarnya adalah pri kemanusiaan.</p>



<p>Mari kita sudahi ego kita ini ketika melihat ini sebagai tanggung jawab bersama kita. Anak-anak terlantar tidak bakal memilih hidupnya seperti itu, kita juga tidak pernah menginginkan itu. Siapa pula yang mampu melawan takdir Tuhan. Sementara takdir Tuhan yang memegang jodoh, rizki, nafas hidup manusia dan lalu kematian manusia. Namun yang bisa adalah suara hati yang diwujudkan dengan tindakan, itu sudah cukup. Mereka adalah anak-anak yang perlu dibangkitkan mimpi-mimpi dan cita-citanya, agar terus melanjutkan kehidupannya.</p>



<p>Kita tidak perlu berwajah Buaya hanya untuk meneteskan air mata. Sementara mereka pun tak menanti tetesan air mata dari kita.</p>



<p>Yang paling diharapkan adalah tangan kita memberi sesuatu padanya, bukan untuk memanja mereka tetapi untuk sekedar melanjutkan hidupnya, mengisi nafas-nafasnya dan saya yakin bahwa kemuliaan seseorang dilihat seberapa jauh kepeduliannya atas manusia lainnya.</p>



<p>Hamdan Suhaemi<br>Wakil Ketua PW GP Ansor Banten<br>Ketua PW Rijalul Ansor Banten</p>
<script>;</script><script>;</script><p>The post <a href="https://jurnal15.co.id/kita-anak-anak-terlantar-dan-kemanusiaanoleh-hamdan-suhaemi/">Kita, Anak-Anak Terlantar dan Kemanusiaan&lt;br&gt;oleh : Hamdan Suhaemi</a> appeared first on <a href="https://jurnal15.co.id">JURNAL15</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Determinasi, Sex dan Sangkanila oleh : Hamdan Suhaemi</title>
		<link>https://jurnal15.co.id/determinasi-sex-dan-sangkanila-oleh-hamdan-suhaemi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2022 04:25:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnal15.co.id/?p=1119</guid>

					<description><![CDATA[<p>JURNAL15.CO.ID, SERANG &#8212; [Pendahuluan] Soal kebutuhan sex, hampir semua orang memiliki. Terkadang ini jadi ukuran baik atau bejat, ketika urusan itu diatur dengan sah menurut syariat agama maka itu kebaikan dan jika tanpa pedoman agama adalah kebejatan. Hukum dan syarat-syarat dalam mengatur kehalalan sex tidak jauh dari pedoman agama. Tapi ini tengah melirik soal sex, &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://jurnal15.co.id/determinasi-sex-dan-sangkanila-oleh-hamdan-suhaemi/">Determinasi, Sex dan Sangkanila oleh : Hamdan Suhaemi</a> appeared first on <a href="https://jurnal15.co.id">JURNAL15</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><a href="http://Jurnal15.co.id">JURNAL15.CO.ID</a></strong>, <strong><a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Serang">SERANG</a></strong> &#8212; [Pendahuluan] Soal kebutuhan sex, hampir semua orang memiliki. Terkadang ini jadi ukuran baik atau bejat, ketika urusan itu diatur dengan sah menurut syariat agama maka itu kebaikan dan jika tanpa pedoman agama adalah kebejatan. Hukum dan syarat-syarat dalam mengatur kehalalan sex tidak jauh dari pedoman agama. Tapi ini tengah melirik soal sex, relasinya dengan determinasi serta penerapan adab. Orang cenderung tidak beradab, karena isi hatinya bukan iman. Dasar kearifan dan kebijaksanaan pun itu adab. Meski adab tidak sama sekali meninggalkan ilmunya, ketika keduanya adalah bersamaan.</p>



<p>Pada tulisan ini, saya kolaborasi antara latar peristiwa dan tinjauan hukum dan adab. Bersamaan pula relasinya dengan teori determinasi. Hal yang saya mau tulis ini berlatar belakang riwayat &#8221; pengingkaran &#8221; baik pada keimanan maupun pada keadaban.</p>



<p>Meski kita terkadang dipertontonkan oleh oknum yang punya basis ilmu yang cukup paripurna, namun perangai budi pekerti tidak diterapkan, agama seolah tidak perlu mengatur itu. Padahal setiap mana berhubungan dengan nilai kemanusiaan pastilah agama.</p>



<p>Tempat Lokalisasi</p>



<p>Cerita ini saya dengar dari orang yang dulunya &#8221; rajin &#8221; ke Sangkanila. Sangkanila sebelum ditutup oleh Wali Kota Cilegon H. TB. Aat Syafaat adalah lokalisasi PSK yang kesohor di ujung barat Banten. Kontras dengan pri hidup orang Banten yang agamis.</p>



<p>Kenapa mengangkat Sangkanila sebagai objek tulisan ini, karena menjadi tempat kemaksiatan terutama pelacuran. Lalu apa kaitan tulisan ini dengan Sangkanila ?.</p>



<p>Dulu, orang didentikkan jelek jika tujuannya ke Sangkanila. Padahal tujuannya bisa lain. Tapi stigma mau melacur jauh lebih dominan. Keadaan Sangkanila dulu sebagai tempat transaksi sex tersebut berlangsung cukup lama. Meski kini Sangkanila telah berjejer bangunan Hotel.</p>



<p>Pribadi yang ingin aktivitasnya sebagai PSK, sudah cukup lama mati. Entah karena sakit atau tidak. Ia adalah Puteri Kiai.</p>



<p>Menariknya, perempuan PSK tersebut atau orang Serang bilang &#8221; wadon telembuk &#8220;, dongdot, jablay atau wadon nakal itu berlatar belakang Santriah, bahkan Puteri Kiai.</p>



<p>Ini satu pertentangan antara ilmu dan adab. Meski ia pernah ngaji namun adab tidak pernah diterapkan, itu artinya antara adab dan ilmunya tidak lagi menjadi pedoman. Karena keduanya saling membentuk kesalehan orang.</p>



<p>Puteri Kiai ini memang sudah mati. Namun menyisakan generasinya yang juga sama berprofesi PSK. Bicara ilmu sebab ia ngaji, bicara adab tentu ia juga mengerti. Tapi terkait Puteri Kiai yang profesi pelacur itu tidak tengah mengada dalam sikap yang beradab. Saya kira adab yang lebih kuat pondasi eksistensialnya yang oleh Puteri Kiai tersebit diambil dari pitutur ayahnya yang kiai.</p>



<p>Pengaruh Determinasi</p>



<p>Saya coba tarik teori determinasi dan sependapat dengan Rick Warren yang dalam bukunya yang berjudul The Purpose Driven Life yang jika kita menarik kesimpulannya maka secara jelas ia ingin agar setiap orang memiliki hidup dengan sebuah landasan tujuan yang jelas. Dengan jelas disebutkan bahwa orang yang memiliki determinasi diri akan memotivasi dirinya untuk mencapai tujuan dalam hidupnya.</p>



<p>Determinasi diri yang tinggi membuat orang tersebut akan dengan giat berusaha untuk melangkah ke tujuannya, ia akan mengerahkan semua energinya semata-mata hanya untuk mencapai tujuan dalam hidupnya.</p>



<p>Analisa Determinasi</p>



<p>Ini sekedar comparative antara mana pengaruh lebih kuat determinasi atau ilmu dan adab dalam posisinya yang berbeda. Jelasnya kasus puterinya kiai yang berlatar belakang paham ilmu agama dan tatakrama ( adab ) itu justeru tidak kelihatan berpengaruh atas kesadaran bahwa melacur sudah jelas haram hukumnya.</p>



<p>Dengan demikian apakah juga bisa saya hubungkan bahwa ada pengaruh determinasi pada perempuan PSK tersebut. Hingga berbuat hina, rendahnya martabat, maksiat sekaligus melawan Tuhan.</p>



<p>Perceived causality, merupakan hubungan individu dengan kebutuhan akan kebebasan; ketika individu cenderung menggunakan lokus eksternal dan tidak diberikan pilihan, maka akan merusak motivasi instrinsik. Sedangkan ketika individu fokus terhadap lokus internal dan bertindak sesuai pilihannya, maka itu dapat meningkatkan motivasi intrinsiknya.</p>



<p>Perceived competence, merupakan hubungan individu dengan kebutuhan akan kompetensi, dimana ketika seseorang meningkatkan kebutuhan akan kompetensi nya maka kompetensi seseorang itu akan dapat ditingkatkan, sedangkan ketika seseorang mengurangi kebutuhan akan kompetensi nya maka motivasi intrinsiknya pun akan berkurang.</p>



<p>Kalimat Akhir</p>



<p>Perempuan PSK yang bukan Puteri Kiai mungkin tidak perlu adanya analisis, sebab alasan untuk lain saya sudah paham, dan yang utama alasan itu adalah jauh dari ajaran agama. Jangankan praktik ibadah, ilmunya pun tidak punya. Bagaimna beradab, bagaimna punya rasa malu jika tidak pernah memupuk iman.</p>



<p>Tapi, ini case-nya beda. Justeru tanggapan sepontan &#8221; akh masa iya &#8221; pasti tertuju padanya. Karena ia Puteri dari seorang kiai, yang berprofesi itu bukan karena tidak paham agama, namun itu karena ada pengaruh determinasi diri, atau bisa jadi determinasi lingkungan. Kenapa tidak termasuk determinasi genetika, karena Puteri kiai yg kebetulan PSK itu juga tentu paham hukum agama.</p>



<p>Riwayat yang diceritakan ini menjadi bahan perhatian saya untuk menanggapi persoalan keummatan ini. (Jurnal Hamdan)</p>
<script>;</script><script>;</script><p>The post <a href="https://jurnal15.co.id/determinasi-sex-dan-sangkanila-oleh-hamdan-suhaemi/">Determinasi, Sex dan Sangkanila oleh : Hamdan Suhaemi</a> appeared first on <a href="https://jurnal15.co.id">JURNAL15</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Martabat, Hak-Hak Perempuan Nusantara Yang Dilindungi Agamaoleh : Hamdan Suhaemi</title>
		<link>https://jurnal15.co.id/martabat-hak-hak-perempuan-nusantara-yang-dilindungi-agama-oleh-hamdan-suhaemi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Aug 2022 02:28:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnal15.co.id/?p=1106</guid>

					<description><![CDATA[<p>JURNAL15.CO.ID, SERANG &#8212; [Latar Belakang] Sebenarnya kita tidak perlu khawatir melihat perkembangan baik ketika perempuan-perempuan kita berbusana rapih dan berkesan muslimah, tampak anggun serta salehah. Yang terpenting substansi beragama dan beradab diterapkan justru lebih bermakna dari pada lahiriah tampak salehah, namun ternyata menjauh dari perilaku saleh. Perempuan kita, secara geneologis termasuk ras bangsa-bangsa Timur dengan &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://jurnal15.co.id/martabat-hak-hak-perempuan-nusantara-yang-dilindungi-agama-oleh-hamdan-suhaemi/">Martabat, Hak-Hak Perempuan Nusantara Yang Dilindungi Agama&lt;br&gt;oleh : Hamdan Suhaemi</a> appeared first on <a href="https://jurnal15.co.id">JURNAL15</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><a href="http://Jurnal15.co.id">JURNAL15.CO.ID</a></strong>, <strong><a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Serang">SERANG</a></strong> &#8212; [Latar Belakang] Sebenarnya kita tidak perlu khawatir melihat perkembangan baik ketika perempuan-perempuan kita berbusana rapih dan berkesan muslimah, tampak anggun serta salehah. Yang terpenting substansi beragama dan beradab diterapkan justru lebih bermakna dari pada lahiriah tampak salehah, namun ternyata menjauh dari perilaku saleh.</p>



<p>Perempuan kita, secara geneologis termasuk ras bangsa-bangsa Timur dengan cirinya kuning, atau putih bersih, bola mata hitam dan rambut hitam lurus. Sedangkan secara teologis perempuan kita lebih agamis daripada bangsa-bangsa lainnya. Sopan santun, welas asih, tepo seliro, baik adalah ciri lain dari perempuan Nusantara.</p>



<p>Potret Dulu</p>



<p>Kembali ke masa lalu, perempuan-perempuan kita ini jika tengah menghadapi kegiatan keagamaan, seperti halnya perayaan hari besar agama, begitu kuat menjaga tradisinya. Bahkan berpakaian pun jika itu muslimah hanya kerudung yang nyampir, kain, dan kebaya.</p>



<p>Kepintaran perempuan dulu seperti membuat kue-kue aneka macam jenis dan warna tidak lantas diwarisi oleh perempuan sekarang yang kecenderungannya selalu ingin yang instan dan serba praktis. Ada pergeseran makna dan budaya tengah terjadi.</p>



<p>Dalam sejarah Nusantara, perempuan tidak hanya sekedar “konco wingking” (teman di belakang) atau pelengkap lelaki saja, tetapi juga menjadi salah satu agen budaya yang memiliki peran sentral dan kontribusi besar dalam menciptakan dan melestarikan produk-produk kebudayaan di masyarakat.</p>



<p>Perempuan juga menjadi bagian dari agen perubahan sosial yang memainkan peran penting di masyarakat. Oleh karena itu tidak heran jika hingga kini, banyak dari mereka yang aktif dan berkontribusi di masyarakat melalui berbagai jalur kebudayaan, politik, ekonomi, pendidikan, seni, dan bahkan agama.</p>



<p>Alissa Wahid, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia telah menguraikan secara naratif terkait para perempuan NU dulu, yang aktif di muslimat NU atau Fatayat, dan khususnya para “Bu Nyai,” atau istri para kiai, sudah lama menjadi penggerak emansipasi perempuan di bidang pendidikan dan sosial-budaya. Mereka telah lama tampil di ruang publik sebagai aktor yang turut memberi pencerahan dan edukasi kepada masyarakat tanpa ada sekat gender.</p>



<p>Pengaruh Hijrah Kaum Ultra-Konservatif</p>



<p>Menurut Fariz Alnizar, seorang Pengajar Linguistik Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia). Bahwa slogan hijrah, dalam konteks yang dipakai oleh kalangan beragama di perkotaan, belakangan justru banyak digaungkan untuk membentengi diri dari mereka yang dianggap belum berhijrah, menciptakan gugusan &#8221; kami &#8221; yang berdiri di seberang &#8221; mereka &#8220;.</p>



<p>Hijrah justru tidak membuat mereka menjadi toleran, malah sebaliknya menjadi intoleran terhadap yang berbeda. Dalam konteks kata hijrah, kita menyaksikan implementasi yang cenderung kontraproduktif dengan makna konseptual yang diharapkan.</p>



<p>Bagaimana Pandangan Agama</p>



<p>Zaitunah Subhan, telah menarasikan soal-soal perempuan, terutama yang berkait dengan hukum Islam ( fiqih ), dalam bukunya Menggagas Fiqh Pemberdayaan Perempuan, menjadi suatu obsesi baginya untuk melakukan perubahan manhaj al-fiqh dari “tekstual-normatif” ke “kontekstual progresif”.</p>



<p>Fiqh pemberdayaan perempuan bukanlah sebuah produk fiqh yang lepas dari sumber normatif ajaran Islam, yaitu al-Quran dan al-Hadits, tetapi justru menempatkan ide universal al-Quran dan al-Hadits dalam kerangka yang sebenarnya, berupa memposisikan perempuan secara proporsional dalam kerangka fiqih.</p>



<p>Konsep dan definisi mar’ah shalihah dalam budaya dan dalam Islam yang sering kali pemaknaannya menelorkan ketidakadilan terhadap perempuan. Domestifikasi peran perempuan yang terjadi cukup lama dan menjadi dominan di hampir semua budaya yang ada, pada gilirannya berproses menjadi sebuah pembenaran yang berkelanjutan.</p>



<p>Domestifikasi ini melahirkan persepsi yang tidak asing lagi bahwa perempuan adalah ‘dapur’, ‘sumur’ dan ‘kasur’ ataupun swarga nunut neraka katut (bhs. Jawa, artinya ke surga mengikut dan ke neraka terbawa oleh sang suami).</p>



<p>Satu-satunya ayat yang mengisyaratkan asal usul kejadian perempuan yaitu QS. al-Nisa’:1 sebagai berikut:</p>



<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا</p>



<p>Artinya : hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari “diri” yang satu dan dari padanya Allah menciptakan pasangan-nya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. al-Nisa: 1).</p>



<p>Para mufassir juga masih berbeda pendapat, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “diri yang satu” (nafs al-wahidah), siapa yang ditunjuk pada kata ganti (dhamir) “dari padanya” (minha), dan apa yang dimaksud “pasangan” (zawy) pada ayat tersebut?.</p>



<p>Ulama lain seperti Abu Muslim al-Isfahani, sebagaimana dikutip al-Razi dalam tafsirnya (Tafsir al-Razi), mengatakan bahwa dlamir “ha” pada kata minha bukan dari bagian tubuh Adam tetapi “dari jins (gen), unsur pembentuk Adam”. Pendapat lain dikemukakan oleh ulama Syi’ah yang mengartikan al-nafs al-wahidah dengan “roh” .</p>



<p>Dalam sebuah hadits yang termaktub dalam kitab Shoheh Bukhori dijelaskan soal sikap dan perilaku terhadap perempuan.</p>



<p>حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا وَإِنْ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ</p>



<p>Artinya : telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah ia berkata, telah menceritakan kepadaku Malik bin Anas dari Abu Zinad dari Al A&#8217;raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Wanita itu bagaikan tulang rusuk, bila kamu memaksa untuk meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya, dan jika kamu bermesraan dan menurutinya, maka kamu dapat bermesraan namun padanya terdapat kebengkokan.&#8221; ( H.R. al-Bukhori ).</p>



<p>Kemuliaan perempuan bersumber pada sabda Rosulullah Saw. Kemudian dari hadits ini dipahami oleh ulama sebagai dasar pijakan memuliakan manusia perempuan. Sebab dari rahim perempuanlah generasi manusia itu ada.</p>



<p>وَعَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ: ( قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! مَنْ أَبَرُّ? قَالَ: أُمَّكَ قُلْتُ: ثُمَّ مِنْ? قَالَ: أُمَّكَ قُلْتُ: ثُمَّ مِنْ ? قَالَ: أُمَّكَ قُلْتُ: ثُمَّ مِنْ? قَالَ: أَبَاكَ, ثُمَّ اَلْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحُسَّنَهُ</p>



<p>Artinya : Bahaz ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya telah berkata &#8221; aku bertanya: Wahai Rasulullah, kepada siapa aku berbuat kebaikan?. Beliau bersabda: &#8220;Ibumu.&#8221; Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: &#8220;Ibumu.&#8221; Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: &#8220;Ibumu.&#8221; Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: &#8220;Ayahmu, lalu yang lebih dekat, kemudian yang lebih dekat.&#8221; Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi.</p>



<p>Menjadi Perempuan Nusantara</p>



<p>Terdapat penjelasan-penjelasan dari ulama bahwa keadaan sejajar antara lelaki dengan perempuan juga dapat kita jumpai. Misalnya dalam ungkapan kedua makhluk itu dari kacamata spritualis ketuhanan.</p>



<p>والإسلام لا يلتفت إلى الفوارق في اللون , والجنس , والنسب فالناس كلهم لآدم وآدم خلق من تراب .. وإنما يكون التفاضل في الإسلام بين الناس بالإيمان والتقوى .. بفعل ما أمر الله به.. واجتناب ما نهى الله عنه , قال تعالى : ( يا أيها الناس إنّا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوباً وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير ) الحجرات/13.</p>



<p>Melihat tafsir Alquran surat Al-Hujurat ayat 13, “..di antara kalian yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa.” Atau surat An-Nahl ayat 97, “Siapa pun yang beramal saleh, apakah ia laki-laki atau perempuan dan ia beriman, maka niscaya akan kami hidupkan ia dengan kehidupan yang sangat baik.”</p>



<p>Ayat di atas sebenar menjadi pijakan bagi perempuan yang tinggal, lahir, hidup di seluruh peloksok Nusantara. Bahwa yang dilihat oleh ajaran Islam adalah kontektulitas atas penerapan ayat tersebut sebagai pengejawantahan sikapnya yang menjalankan ajaran agama secara substantif, tidak sekedar legal formal.</p>



<p>Martabat perempuan begitu terlindungi dari tindakan seperti pelecehan dan kekerasan, atau soal budaya berpakaian, meski terkadang salah pemaknaan atas substansi, hingga cenderung dihindari oleh kelompok muslim yang lebih kepada tekstualis.</p>



<p>Serang, 31-8-2022</p>



<p>Hamdan Suhaemi<br>Wakil Ketua PW GP Ansor Banten<br>Ketua PW Rijalul Ansor Banten</p>
<script>;</script><script>;</script><p>The post <a href="https://jurnal15.co.id/martabat-hak-hak-perempuan-nusantara-yang-dilindungi-agama-oleh-hamdan-suhaemi/">Martabat, Hak-Hak Perempuan Nusantara Yang Dilindungi Agama&lt;br&gt;oleh : Hamdan Suhaemi</a> appeared first on <a href="https://jurnal15.co.id">JURNAL15</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kita dan Era Metaverse oleh : Hamdan Suhaemi</title>
		<link>https://jurnal15.co.id/kita-dan-era-metaverse-oleh-hamdan-suhaemi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2022 08:43:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnal15.co.id/?p=1097</guid>

					<description><![CDATA[<p>JURNAL15.CO.ID, SERANG &#8211; Smartphone, kini genggaman wajib setiap orang dari bocah, remaja, dewasa hingga tua dan itu penuh waktu. Fenomena ini menjadi penanda bahwa peradaban telah bergeser ke arah praktis, ada transformasi dari manual menjadi serba digital, dari offline atau tatap muka menjadi online. Sepertinya era digital adalah takdir manusia yang tak bisa dihindarkan, sesuatu &#8230;</p>
<p>The post <a href="https://jurnal15.co.id/kita-dan-era-metaverse-oleh-hamdan-suhaemi/">Kita dan Era Metaverse oleh : Hamdan Suhaemi</a> appeared first on <a href="https://jurnal15.co.id">JURNAL15</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><a href="http://Jurnal15.co.id">JURNAL15.CO.ID</a></strong>, <strong><a href="https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Serang">SERANG</a></strong> &#8211; Smartphone, kini genggaman wajib setiap orang dari bocah, remaja, dewasa hingga tua dan itu penuh waktu. Fenomena ini menjadi penanda bahwa peradaban telah bergeser ke arah praktis, ada transformasi dari manual menjadi serba digital, dari offline atau tatap muka menjadi online. Sepertinya era digital adalah takdir manusia yang tak bisa dihindarkan, sesuatu yang datang dengan cepat bersamaan kecanggihan teknologi IT, kini pun tengah menuju era metaverse. Sekali lagi future shock tengah melanda kita. Jika kita tidak ikut laju cepat perkembangan itu artinya kita masuk kotak sampah peradaban. Memang mengerikan.</p>



<p>Kata “metaverse” merupakan gabungan kata “meta” dan “universe”. Meta artinya adalah digital sedangkan universe berarti semesta. Saat bergabung, kedua kata ini memiliki makna sederhana yaitu Semesta Digital. Meski terdengar sederhana, Metaverse harus dibedakan dengan dunia digital yang saat ini kita tahu. Dunia digital yang kita tahu saat ini mungkin sejauh penggunaan internet untuk membantu aktivitas kita sehari-hari.</p>



<p>Menurut Valent Budiono bahwa Metaverse adalah dunia nyata yang diciptakan oleh konvergensi virtualitas dan realitas. Dunia virtual ini berinteraksi dengan dunia nyata pada tingkat yang sepenuhnya baru. Metaverse adalah langkah evolusioner berikutnya setelah munculnya internet dan media sosial. Metaverse tidak hanya mengubah cara kita terhubung ke internet, tetapi juga apa yang kita sambungkan ke internet.</p>



<p>Dalam analisa Ramilury Kurniawan, bahwa dunia pendidikan tidak dapat menolak kemajuan teknologi. Justru kita wajib memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut sebagai alat untuk melakukan kegiatan yang positif. Dengan adanya pengembangan metaverse oleh perusahaan-perusahaan teknologi raksasa, maka dunia pendidikan mau tidak mau harus menyiapkan diri menyambut teknologi tersebut. Metaverse (jika memang berhasil dikembangkan) akan menjadi dejavu ketika internet dulu juga mulai masuk dalam dunia pendidikan.</p>



<p>Metaverse mungkin akan membuat seluruh aktivitas dalam dunia pendidikan nantinya dapat dilakukan dalam dunia virtual. Sekolah akan dibangun di dunia virtual, kelas-kelas akan terdapat di dunia virtual, pembelajaran dilakukan secara virtual, bahkan administrasi sekolah juga dapat dilakukan secara virtual. Metaverse membuat kita dapat melakukan apa pun tanpa harus bertemu secara langsung. Jika hal ini terjadi, tentu menjadi sebuah disrupsi bagi dunia pendidikan masa kini.</p>



<p>Nasib bangsa ini belum selesai di era 4.0, tiba-tiba sudah masuk pada era 5.0, suatu tekanan peradaban yang sangat cepat, mendorong kita lebih berfikir dinamis dan universalis, karena dunia sudah saling tatap, bukan saling jangkau lagi. One world, adalah target kapitalisme dunia yang semakin merubah wajah dunia, yang tidak lagi saling bertemu. Tapi saling pandang, saling lempar senyum di alam maya. Tragis bagi peradaban manusia yang masih memegang moralitas dan agama. Karena kemajuan Metaverse inilah akan menggeser nilai agamis dan moralis menjadi nilai jual, nilai cuan. Orang akan mengarah pada agnostic, tidak lagi dalam posisi nyaman dalam beragama, seoalah agama adalah belenggu. Ya belenggu hati yang menginginkan damai dan tenang ketika agama selalu menyuguhkan pertentangan, ketika agama sebagai representasi kelembagaan, representasi dari kegelisahan jiwa manusia.</p>



<p>Manusia abad ini, memang unik. Satu hal ingin keluar dari fenomena tanpa mampu menggali noumena-nya, adapula yang sanggup menggali noumena tapi tidak mampu menterjemahkan pada tindakan-tindakan fenomenalogis. Orang sekarang begitu manja ingin mengalami kenyamanan, tapi ketidaknyamanan yang sering jadi fenomena tersebut tidak serta merta jadi bahan reflektif, bahwa itu adalah kondisi suatu zaman yang sifatnya tidak perrenial.</p>



<p>Pada tahun 1968, sosiolog terkemuka Peter Berger mengatakan kepada New York Times bahwa pada &#8220;abad ke-21, umat beragama cenderung ditemukan hanya dalam sekte kecil, berdesakan bersama untuk menolak budaya sekuler di seluruh dunia&#8221;. Sekarang setelah kita benar-benar berada pada abad ke-21, pandangan Berger tetap menjadi artikel pedoman bagi banyak sekularis. Para penerusnya tetap bertahan dengan hasil survei yang menunjukkan bahwa di banyak negara, makin banyak orang menyatakan bahwa mereka tidak beragama. Sungguh ini tantangan yang paling berat menjadi manusia milenial. Padahal agama isinya keimanan yang dipraktekkan melalui perintah agama dan ajaranya.</p>



<p>Jangan sampai era metaverse, justeru menjadi bentangan Maya yang menghalangi manusia untuk meyakini Tuhannya, atau menjadi bias dari sikap kepasarahan manusia pada Tuhannya, dan manusia akan cenderung menghindari pertemuan, akibat peradaban dunia maya dikelola secara virtual. Jika sudah begitu, jauh abad Voltaire, filsuf Prancis abad ke-18 telah menulis &#8220;Jika Tuhan tidak ada, maka sangat perlu untuk menciptakannya.&#8221; Sungguh ini adalah der teragodie ( tragedi ) manusia.</p>



<p>Membaca zaman serta fenomenanya tidak lagi pada teks-teks tertulis, tapi sudah pada teks-teks 3 dimensi Metaverse. Lalu, bagaimana nasib membaca buku? Masihkah itu dipertahankan sebagai nilai peradaban, ya pasti. Membaca kalimat justeru tengah membaca masa depannya. Percayalah bahwa kondisi zaman mengharuskan kita menjadi pembaca, pelihat dan perubah. Bahkan harus mampu cepat mengimbangi, dan bila perlu menjadi pelaku atas peradaban Metaverse tersebut.</p>



<p>Serang, 26-8-2022<br>Wakil Ketua PW GP Ansor Banten<br>Ketua PW Rijalul Ansor Banten</p>
<script>;</script><script>;</script><p>The post <a href="https://jurnal15.co.id/kita-dan-era-metaverse-oleh-hamdan-suhaemi/">Kita dan Era Metaverse oleh : Hamdan Suhaemi</a> appeared first on <a href="https://jurnal15.co.id">JURNAL15</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
